Nyamannya Transit di Bandara Changi Singapura


Bulan Juni dan Juli, saya empat kali transit di Changi, terbang ke New Zealand dengan Singapore Airlines dan terbang ke Eropa dengan Emirates. Biasanya, ketika terbang ke arah timur Indonesia, tujuan Australia, saya lebih suka transit di Denpasar karena menghemat waktu terbang. Tapi untuk tujuan Selandia Baru memang belum ada penerbangan langsung dari Indonesia, sehingga terpaksa harus bolak-balik terbang ke barat dulu, baru ke timur lagi. Kalau tujuan akhirnya memang ke arah barat seperti Timur Tengah atau Eropa, tentu saya lebih memilih transit di bandara Changi daripada bandara lain (Soekarno-Hatta atau KLIA).

Ketika mendapat itinerary tiket SQ dari Jakarta ke Christchurch via Singapore, saya deg-deg-an melihat waktu layover yang mepet banget. Ketika berangkat, memang ada waktu 3 jam untuk transit. Tapi pulangnya, hanya ada waktu 55 menit untuk turun dari pesawat dan boarding lagi ke pesawat berikutnya melewati pemeriksaan keamanan. Beda terminal lagi! Duh, piye iki?

Saya ingat repotnya pindah dari satu terminal ke terminal lain dalam bandara yang sama di Indonesia. Waktu nyasar di T1 Juanda, padahal harus berangkat dari terminal 2, kami perlu waktu 30 menit. Di Changi? Untungnya antar terminal cuma perlu waktu 3 menit, dengan naik skytrain gratis. Skytrain ini seperti monorail, yang menghubungkan T1, T2 dan T3 Changi, datang setiap 3 menit. Stasiun skytrain bisa diakses dari public area (daerah umum, di luar pemeriksaan imigrasi) dan transit area (daerah transit, di dalam pemeriksaan imigrasi).

Stasiun Skytrain
Toilet Changi yang luas, bersih dan wangi
Ketika penumpang mendarat di Changi, dia ada di transit area. Kalau bagasi sudah diurus oleh maskapai yang sama maupun yang menggunakan code share, penumpang tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi dan cek in lagi. Penumpang transit bisa langsung menuju boarding gate pesawat berikutnya, meskipun terletak di terminal yang berbeda. Ketika saya ke New Zealand, bagasi saya sudah diurus di Jakarta dan langsung diterbangkan ke Christchurch. Ketika cek in di Jakarta, saya sudah mendapat boarding pass pesawat dari Singapura ke New Zealand. Begitu turun pesawat di Changi, saya tinggal menunggu boarding lagi di transit area. Saya punya waktu tiga jam yang bisa saya gunakan untuk browsing internet, kirim kabar ke orang rumah, sholat dan dandan di toilet yang bersih dan luas.

Pulang dari Christchurch, saya harus 'mengejar' pesawat ke Jakarta, dalam waktu 55 menit. Ternyata Singapore Airlines sudah punya sistem yang bagus untuk transfer. Kira-kira satu jam sebelum pesawat mendarat, kami sudah diberi pengumuman lokasi boarding gate pesawat berikutnya yang akan kita tumpangi. Para penumpang yang lay over-nya cepat juga diberi tempat duduk paling depan sehingga paling cepat keluar dan segera menuju boarding gate lagi. Ada petugas yang 'menjemput' para penumpang yang transitnya mepet ini, memberi tahu arah agar tidak salah jalan. Ketika itu saya mendarat di T3, tapi harus boarding lagi di T2. Semua berjalan lancar dan mulus-mulus saja, saya hanya perlu waktu 10 menit (jalan kaki dan menunggu skytrain) untuk pindah terminal. Kira-kira perlu waktu 15 menit untuk antre pemeriksaan keamanan. Dan voila, saya sudah duduk manis lagi di penerbangan selanjutnya. Mungkin lain ceritanya kalau ada yang perlu ke toilet. Duh, antre toilet di dekat pesawat mendarat tuh pasti puanjang banget. Good luck aja deh :) Pengalaman saya, pesawat SQ dari Singapura ke Jakarta sedikit terlambat karena menunggu setoran bagasi dari penumpang transit (milik saya, hehe). Jadi yang membeli tiket terusan dari maskapai yang sama (atau codeshare), tidak perlu panik kalau waktu transit di Changi mepet. Kurang dari sejam pun bisa terkejar, bahkan kalau kita bawa anak-anak.


Beda dengan ketika kami sekeluarga mau ke Eropa, kami tetap harus melewati imigrasi (cek paspor) karena pesawat yang kami beli ketengan, bukan pesawat terusan dari Surabaya ke Paris. Dari Surabaya ke Singapura kami naik Air Asia. Dari Singapura ke Paris kami naik Emirates. Terpaksa bagasi kami ambil sendiri lagi dan cek in ulang di konter Emirates. Begitu juga pulangnya, dari Paris ke Singapura (via Dubai) kami naik Emirates. Tapi untuk menuju Surabaya, kami naik China Airlines. Lama menunggu pesawat di Changi, baik berangkat atau pulang sekitar enam jam.

Di Changi, banyak tanda penunjuk jalan dan rambu-rambu dalam empat bahasa (Inggris, Mandarin, Melayu dan Tamil) sehingga kita nggak akan nyasar. Kalaupun nyasar, petugas bandara mudah ditemui. Di setiap sudut ada informasi penerbangan dan juga papan interaktif yang akan memberitahu kita 'rute' yang harus kita tempuh kalau kita ingin menuju suatu tempat. Saya juga salut dengan fasilitas-fasilitas bandara Changi yang memanjakan pengunjungnya. Semua fasilitas seperti toilet, ruang perawatan bayi dan tempat sholat (prayer room) terawat dengan baik, dalam kondisi bersih dan tersedia di mana-mana. Musholla dipisah antara laki-laki dan perempuan, termasuk tempat wudhunya. Tempatnya bersih dan nyaman, meskipun tidak besar. Ada mukena yang bisa dipinjam kalau kita tidak bawa mukena sendiri. Di sini tempat yang paling nyaman untuk menyelonjorkan kaki dan menghilangkan penat. Tapi di dinding musholla jelas-jelas ada tanda larangan: "Strictly No Eating And Sleeping Is Allowed In This Room" Dilarang keras makan dan tidur di ruangan ini.

Apa fasilitas yang paling kami sukai? Internet gratis tentu saja, biar gak bosen menunggu berjam-jam. Kita bisa mengakses internet gratis langsung dari gadget yang kita bawa (ponsel, tablet, laptop) atau dengan menggunakan komputer yang ada di setiap terminal. Saya juga menemukan beberapa komputer berinternet ini tersedia di dalam boarding gate. Cocok untuk update pesan di Facebook sebelum berangkat. Dari ponsel, ketika wifi kita sudah terhubung, kita diminta mendaftarkan alamat email dan nomor ponsel. Setelah itu akan ada pesan bahwa password akan dikirim ke nomor ponsel kita. Sayangnya waktu itu, nomor ponsel Indonesia saya tidak bisa menerima password. Kalau terjadi seperti ini, datang saja ke gerai informasi untuk meminta password dari mereka. 
 
Internet gratis.
Prayer room. Ada sign 'Tidak boleh tidur di sini'
Lalu, selama menunggu pesawat selanjutnya, enaknya ke mana saja? Ini daftar tempat nongkrong favorit kami di T1 dan T3 Changi airport.

1. Slide & Playground at T3 (Public Area)
Ini tempat bermain yang kami temukan di public area T3, letaknya di B2 (basement), dekat Starbucks. Selain arena bermain kecil, ada juga seluncuran yang lumayan mengundang nyali anak-anak. Semuanya gratis. Begitu mencoba sekali, Little A ingin mencoba lagi dan lagi. Seluncuran ini tidak dijaga, jadi untuk anak-anak yang masih kecil (minimal tinggi 100cm) harus dijaga orang tuanya. Kalau bosan bermain dan meluncur, ada air mancur menari di sebelah Starbucks.


2. Social Tree T1 (Transit Area)
Kita akan langsung menemukan Social Tree setelah melewati pemeriksaan imigrasi di Terminal 1. Di pohon ini, kita bisa berselfie di mesin khusus, lalu menghias dan mengunggahnya ke atas. Satu pose? Nggak cukup lah.
Setelah capek selfie, kita bisa duduk di sofa-sofa empuk di sebelahnya, sambil memandang aktivitas pesawat di runway dari balik kaca.


3. Butterfly Garden T3 (Transit Area)
Letaknya di T3, agak tersembunyi di belakang, jadi kalau nyasar, mintalah bantuan petugas. Troli kecil bisa dibawa masuk. Taman kupu-kupu ini keren karena kita bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu (jelas lah!). Saya bukan penggemar kupu-kupu tapi tetap senang berjalan-jalan di antara mereka yang terbang dengan lincah dan gembira. Suhu di taman ini cukup panas, seperti di luar ruang. Yang nggak kuat berpanas-panas seperti saya, monggo balik lagi ke ruang ber-AC :D

4. Koi Pond T3 (Transit Area)
Kolam koi ini persis di sebelah taman kupu-kupu, di terminal 3. Anak-anak pasti seneng ke sini. Suasananya lebih adem daripada taman kupu-kupu. Di sampingnya banyak sofa dengan colokan. Pas banget untuk nge-charge gadget. Kami berlama-lama di sini, sambil mencoba mesin pijat kaki di pojok ruangan, membuatkan susu untuk Little A dari air panas di nursery room, dan tentu saja leyeh-leyeh sambil menunggu jam makan.



5. Playground T3 (Transit Area)
Kami senang sekali main-main di terminal 3, meskipun pesawat kami sendiri boarding dari terminal 1. Karena punya banyak waktu menunggu, kami puas jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Changi ini. Di seberang kolam koi, setelah Hard Rock Cafe ada area bermain untuk anak. Cukup bagus, ada seluncurannya juga. Lokasi ini juga dekat dengan Snooze lounge di mezzanine untuk tidur dan dekat food court.


6. Singapore Street Eat T3 (Transit Area)
Ini tempat makan baru yang oke banget di terminal 3. Desainnya seperti ruko-ruko peranakan. Pilihan makanannya beragam. Kami makan di sini sebelum terbang ke Paris via Dubai. Pilihan kami adalah duck rice (SGD 6,50), beef hor fun (SGD 8), roasted chicken (SGD 5,50) dan tidak lupa chendol (SGD 4). Untuk membayar, kami membeli voucher dalam bentuk kartu di kasir (nominal terserah, kami membeli SGD 50). Kartu ini dipakai untuk membayar di outlet-outlet yang kita pilih. Kalau ada sisa, bisa diuangkan kembali. Saya senang makan di sini karena enak dan harganya tidak mahal.


7. Food Court & Snooze Lounge T1 (Transit Area)
Pulang dari Eropa, kami naik pesawat China Airlines untuk kembali ke Surabaya. Pesawat boarding di terminal 1. Ketika kami pertama kali ke Singapura, Si Ayah dan Big A pernah mencoba makan chicken rice di food court T1, mereka seneng banget dan ingin mencoba lagi. Tapi kali ini kami memilih duduk-duduk di lounge sebelah food court, yang sofanya lebih nyaman plus ada colokan untuk nge-charge. Saya yang waktu itu belum lapar banget memilih ngemil popcorn ayam dari Texas Chicken.

Saya senang menunggu di Changi Airport, tetap nyaman tanpa harus mengeluarkan uang (kecuali untuk beli makanan). Beda dengan bandara Dubai yang fasilitas utamanya adalah toko duty free. Ada yang senang transit di Changi juga? Di mana tempat nongkrong favoritmu?


~ The Emak

Baca juga:
Changi Airport, Terbaik di Dunia?
Terbang Ke New Zealand Dengan Singapore Airlines
Terbang ke Singapura dengan Jetstar
Singapore With Kids: Itinerary & Budget

0 komentar:

Saldo BRI Berkurang, Ketahui Berbagai Potongan ini

Saya tidak tahu apakah anda termasuk orang yang mengeluh saldo tabungan di BRI berkurang. Jika memang benar adanya, saya cuma bisa mengucapkan:  selamat menikmati  hehe…..

Beberapa teman yang sempat ngasih komentar di blog ini mengeluh demikian. Ada  juga yang bertanya mengenai jenis transaksi apa saja yang menimbulkan biaya.

Semula saya  mengira transaksi yang menimbulkan biaya itu tidak jauh

0 komentar:

Terbang Ke Eropa Dengan Emirates

Kabin Emirates dan pramugari berseragam khas
Ketika mencari-cari tiket murah ke Eropa, saya tidak secara khusus memilih Emirates. Maskapai apa saja yang pelayanannya bagus, tapi tiketnya terjangkau. Untuk tanggal yang kami pilih di bulan Juli, memang Emirates-lah yang harganya paling murah waktu itu. Jodoh, akhirnya saya booking Emirates Singapura - Paris via Dubai pp seharga USD 875 per orang di website resminya.

Ini bukan pertama kalinya kami naik Emirates. Kami pernah terbang dengan Emirates dari Christchurch New Zealand ke Sydney, selama tiga setengah jam. Waktu itu anak-anak senang naik Emirates, terutama karena diberi mainan dan karena sistem hiburannya (ICE) yang keren. Ketika saya beritahu bahwa kami akan naik Emirates lagi ke Paris, Little A dan Big A serempak bilang, "Yay!"

Saya beli tiket ke Eropa dari Singapore karena tidak ada tiket yang langsung dari Surabaya. Dari Surabaya, saya membeli tiket terpisah (Air Asia dan China Airlines). Sebenarnya Emirates juga terbang dari Jakarta ke kota-kota di Eropa via Dubai. Tapi harganya lebih mahal (daripada yang berangkat dari SIN) dan pesawatnya bukan Airbus A380. Baru kemudian saya tahu bahwa tidak ada bedanya naik Airbus A380 (pesawat double decker) kalau kita duduknya di kelas ekonomi, hahaha.

Alasan lain, tentu saja karena kami lebih senang transit di Singapura daripada di Jakarta (maaf ya). Di bandara Changi, kami bisa early cek in, sekitar jam 3 sore kurang, padahal pesawat baru berangkat jam 9.25 pm. Sebelumnya, di website Emirates saya sudah memilih nomor tempat duduk agar kami berempat bisa duduk bersama. Saya juga sudah memesankan Kids Meal untuk Little A. Sayang banget Big A sudah tidak berhak pesan Kids Meal karena umurnya sudah 12 tahun. Makanan untuk dewasa tidak perlu pesan khusus karena semuanya halal. 

Cek in mulus, jatah bagasi kami yang 120 kg (glek!) cuma terpakai sekitar 30 kg karena kami memang pinter packing light. Perlu dicatat, kalau kita memesan tiket dengan kartu kredit secara online, mereka akan meminta kita memperlihatkan kartu kredit yang sama yang digunakan untuk memesan. Hal ini sudah diperingatkan sebelumnya ketika kita memesan di website. Sepertinya memang ada peraturan ini untuk kartu kredit dari negara-negera tertentu, termasuk Indonesia (sigh).

cek in di Changi airport
Setelah menunggu lama di Changi (kami tidak keberatan sih :p), akhirnya kami boarding juga. Interiornya masih sama dengan kabin Emirates yang kami tumpangi 3 tahun yang lalu. Seragam pramugarinya yang khas pun masih sama. Penataan kursinya 3-4-3, kami berempat duduk di tengah. 

Dibandingkan dengan kursi ekonomi Singapore Airlines, kursi Emirates kurang nyaman. Saya yang berukuran mini ini kakinya menggantung, dan tidak ada pijakan kaki. Akhirnya saya gunakan ransel Big A sebagai pijakan. Kursi baru terasa pas setelah di-recline. Sisi plusnya, ada bantalan kepala yang bisa diatur tinggi rendahnya, dan bisa ditekuk untuk menyangga kepala agar tidak 'jatuh' saat tertidur. Dengan begitu, kita tidak perlu repot-repot membawa bantal leher. 

Anak-anak sih nggak ada masalah dengan kursi. Little A perlu diganjel dengan beberapa bantal agar dia bisa melihat layar dengan jelas. Ketika tidur, kami harus menempatkan sabuk pengaman di luar selimut agar tidak 'dicurigai' pramugari ketika ada turbulence dan harus memakai sabuk. Karena ini pesawat besar, ketika lepas landas dan mendarat, tidak terasa sama sekali, mulus-mulus saja. Kami bisa melihat proses take off dan landing ini dari tiga kamera yang dipasang di pesawat dan ditayangkan di layar pribadi kita.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, sistem hiburan Emirates paling baik di kelasnya. Mereka menamainya ICE (information, communication dan entertainment). Banyak sekali film-film baru yang bisa ditonton, serial tv dari berbagai penjuru dunia dan ratusan film dokumenter. Ada ratusan chanel radio, podcast, games, dan album musik terbaru. Big A paling mahir di antara kami, mengoperasikan ICE ini. Tapi memang ICE di Emirates lebih mudah dioperasikan daripada di Singapore Airlines, karena ada layar sentuhnya. The Precils sempat menonton film Rio 2, Lego Movie dan Tinkerbell. Saya sendiri sempat menonton The Book Thief, tapi lebih sering berbaring saja sambil mendengarkan Coldplay.

Toilet di Emirates desainnya cukup mewah. Ruangannya juga lebih luas (menurut saya). Mau tahu nggak apa bedanya naik pesawat double decker A380 dengan pesawat biasa? Sebenarnya tidak ada bedanya kalau kita duduk di kelas ekonomi. Tapi ketika saya berjalan ke toilet yang ada di ujung kabin, saya melihat ada tangga ke atas menuju kelas bisnis. Jalan masuknya ditutup. Saya mau fotoin tapi kok malu. Yo wes, yang penting pernah lihat pesawat 'tingkat'. Kapan-kapan aja deh nyobain kelas bisnis atau first class sekalian :p

touch touch touch
Transit di Dubai
Untuk penerbangan dengan Emirates ke Eropa, kami perlu transit di Dubai. Lama terbang dari Singapura ke Dubai sekitar tujuh setengah jam. Setelah transit selama tiga jam dan lima belas menit, kami melanjutkan perjalanan dari Dubai ke Paris selama tujuh jam dan dua puluh menit. Transit dalam penerbangan pulangnya lebih lama lagi, kami harus menunggu di Dubai sampai tujuh jam.

Dalam transit pertama, kami tiba di bandara Dubai jam 1 dini hari waktu setempat. Duh, rasanya masih ngantuk-ngantuknya. Begitu mendarat, kami langsung mencari stroller yang memang disediakan Emirates untuk dipakai gratis di airport. Lalu kami menyegarkan diri di toilet, sebelum akhirnya antre pemeriksaan keamanan. Mungkin waktu itu sedang jam sibuk (dini hari!), kami antre cukup lama sebelum akhirnya diperiksa melewati pintu detektor logam. Lolos dari security check, kami sempatkan istirahat sambil berusaha tidur di bangku. Ruang tunggu bandara Dubai saat itu cukup penuh. Saya juga tidak begitu terkesan dengan bandara ini, meskipun toko duty free-nya dibilang paling besar sedunia. Lha buat apa? Kami nggak suka dan butuh belanja soalnya. Kami tidak mengeluarkan uang di bandara ini. Untungnya air minum dari kran gratis :) 

Kondisi transit ketika pulang dari Paris ke Singapura jauh lebih baik. Mungkin karena jamnya bukan jam tidur (tengah malam). Kami tiba di Dubai jam 8 malam. Belajar dari pengalaman sebelumnya, agar tidak lama antre pemeriksaan keamanan, kami santai saja melipir ke toilet dulu, dan jalan pelan-pelan. Tak lupa kami meminta voucher makan gratis, yang diberikan Emirates untuk yang transitnya lebih dari 4 jam. Untuk mendapatkan voucher makan ini kita harus minta di meja informasi/resepsionis Emirates, tidak ada pengumuman apa-apa dari pihak mereka. Saya sendiri mengetahui hal ini dari blog orang.

Alhamdulillah pemeriksaan keamanan lancar, dibantu petugas yang rupanya cewek-cewek Filipina, yang langsung ngefans sama Little A. Voucher makan kami tukarkan di Mezzanine, buffet di lantai atas dekat gate A2. Ada beberapa pilihan makan sebenarnya, termasuk Starbuck dan Mc Donald, tapi pilihan terbaik sepertinya memang Mezzanine yang pilihan makanannya banyak dan tempatnya cukup luas dan nyaman untuk keluarga. Saya merasa sedikit pusing ketika kami istirahat di sini. Setelah makan sedikit nasi biryani, saya berbaring di sofa besar di pojok. Precils dan Ayahnya bisa tetap duduk dan makan dengan nyaman di sofa yang sama. Baru setelah kami cukup kenyang dan cukup istirahat, kami pindah mencari kursi-kursi panjang yang bisa untuk tidur. Sayangnya area ini ramai sekali oleh orang-orang. Meskipun fungsi utamanya sebenarnya untuk istirahat dan tidur, banyak yang berisik bicara keras-keras. Lampunya pun terang benderang. Saya berusaha tidur dengan meminjam sleeping mask Little A, tapi hanya berhasil tidur-tidur ayam karena 'tetangga' yang berisik banget. Dalam hal ini, bandara Changi jauh lebih pintar, mereka punya area khusus bagi yang ingin tidur. Suasananya dibuat senyaman mungkin, dengan lampu temaram dan tempatnya terpencil. Dubai harus belajar dari Changi soal ini.


Enakkah makanan yang dihidangkan Emirates? Menurut saya sih cukup enak, meski tidak seenak masakan Singapore Airlines. Di mana-mana, makanan untuk anak-anak lebih enak daripada pilihan makanan untuk dewasa, masih ditambah camilan seperti Kit Kat, Mars, permen dan Milo! Di kotak camilan Little A juga ada hadiah slap band piala dunia dan sikat gigi unyu beserta pasta mungil.

Saya senang makan di pesawat karena hidangannya lengkap, termasuk makanan pembuka, roti, makanan utama dan pencuci mulut. Oh, butter! Dear, cream cheese! Kegiatan mengunyah, makan di pesawat juga bisa untuk mengurangi sakit kepala akibat perbedaan tekanan udara. Sayangnya, menurut saya, pramugari Emirates ini kurang cekatan dalam menyiapkan makan. Sering saya sudah lapar tapi makanan belum datang. Padahal kami duduknya di bagian depan. Sering saya lihat mbak-mbak pramugari ini tergopoh-gopoh memberikan jatah makanan yang kurang untuk teman yang bertugas di bagian lain. Entahlah bagaimana mereka memenej pembagian makanan ini. Saya juga harus menunggu terlalu lama sampai minuman panas (teh atau kopi) dihidangkan setelah makan. Ini biasanya saya sudah keburu ngantuk. Bahkan ada bagian penerbangan yang minuman panasnya tidak datang sama sekali.

Kids meal
Kids meal
Normal meal
Sarapan normal
Little A senang sekali naik Emirates kemarin karena dia banyak mendapat goodies, hadiah dan mainan dari Emirates. Karena empat kali terbang, Little A mendapat empat goodies, isinya banyak banget. Ketika berangkat dia mendapat tas tempat makan siang, isinya ada buku Dr Seuss, dompet, dan kartu dari QuikSilver. Pulangnya Little A mendapat tas sekolah berisi agenda QuikSilver dan sleeping mask. Di penerbangan terakhir dia mendapat selimut dan boneka. Semua ditambah dengan buku mewarnai dan pensi warna. Biasanya ada pramugari membawa tas besar berisi mainan. Kita harus waspada karena dia mungkin tidak melihat ada anak kecil yang bersembunyi di kursi tengah. Saya dan Si Ayah bergantian mencegat mbak-mbak ini dan meminta goody. Lumayan lah untuk oleh-oleh, plus bisa dikasih ke tetangga sebelah setelah pulang (ngirit, hehe).

Overall, kami cukup senang naik Emirates. Kalau ada harga yang pantas, kami akan memilih naik maskapai ini lagi. Ke Istanbul mungkin? Atau sekalian ke Amerika Latin? ;)

Emirates A380 di bandara CDG Paris
~ The Emak

Baca juga: 
Pengalaman Naik Emirates dari Christchurch ke Sydney

serta tulisan lain tentang Eropa:
VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

TRANSPORTASI
Berburu Tiket Pesawat Murah ke Eropa
Tip Membeli Tiket Kereta Keliling Eropa

ITINERARY
Pertama Kali ke Eropa? Ini Itinerarynya!

PENGINAPAN
Mencari dan Memesan Penginapan dengan Airbnb  

Review Novotel Off Grand Place Brussels
Review Hotel Meininger Amsterdam


PACKING 
Tip Packing Ke Eropa

0 komentar:

Nyoba BII Net Mobile Banking Android

Ceritanya saya punya android baru  bray (pamer deh  gue  wkwkwk..….), saya install  dong satu persatu aplikasi yang biasa saya pake di Hape lama. Nah ketika masuk pada giliran install  aplikasi perbankan, di google playstore ada APK BII Net Mobile banking.

Sempat ada tanda tanya dalam hari: aplikasi apalagi ini?. Pertanyaan kayak gitu muncul  karena saya tahu BII Maybank sudah punya aplikasi

0 komentar:

Tabungan Umroh Bank Mandiri Syariah BSM

Tabungan Umroh Bank Mandiri Syariah BSM - Untuk kaum muslimin yang ingin ibadah umroh, bank syariah mandiri melayani kebutuhan anda calon jamaah. Layanan yang tersedia mulai dari tabungan umroh maupun fasilitas pembiayaan untuk berangkat ke baitullah.Seperti apa fasilitas tabungan dan pembiayaan umroh dari bank mandiri syariah, berikut catatannya;

BSM Tabungan Mabrur
Simpanan ini tidak hanya

0 komentar:

Kartupos dari Maharasthra India


Awal bulan Juni Si Ayah mendapat undangan workshop di India. Biasanya dia agak nggak enak sering pergi meninggalkan keluarga, karena dia tahu saya yang lebih seneng traveling, sementara dia yang lebih sering mendapat kesempatan untuk pergi. Tapi kali ini, dia nggak merasa bersalah pergi karena tahu India nggak masuk ke bucket list, destinasi impian saya. Sampai saat ini saya belum pengen ke India, cukup membaca atau mendengar ceritanya saja :)

Acara workshop tentang Citizen-Led Assesment ini cukup padat. Nino cuma punya waktu satu setengah hari untuk jalan-jalan, itu saja diorganisir oleh panitia. Karena itu dia malas bawa kamera besar (nggak besar-besar banget sih, wong 'cuma' mirrorless), apalagi bawa tripod. Dalam perjalanan ke India kali ini, Si Ayah hanya berbekal kamera poket lawas, Canon S-95. Tapi dasar pinter motret, dengan kamera poket pun dia bisa menghasilkan foto-foto keren (menurut istrinya, hahaha). Memang bener sih yang bilang: yang penting bukan gadget-nya, tapi the man behind the camera.

Worskhop dilaksanakan di kota Aurangabad, distrik Maharashtra. Kota ini bisa ditempuh 1 jam naik pesawat dari Mumbai. Di sini ada beberapa atraksi wisata yang cukup menarik, antara lain: Bibi Ka Maqbara (Mini Taj Mahal), Ellora Cave dan Daulatabad Fort. Tak lupa Nino juga mengabadikan desa-desa yang dia kunjungi. Dengan bidikan lensanya, senja di pengkolan kampung di India sana pun tampak indah ;) Saya senang bisa mendapat oleh-oleh foto suasana India yang berbeda dari yang biasa saya lihat di blog teman-teman traveler.

Selamat menikmati!


"Have you been to Taj Mahal?"
"No."
"Then go. If you've been to Taj Mahal, no use going there." Di Aurangabad, Maharashtra, ada Taj Mahal mini, sebutan resminya Bibi Ka Maqbara. Kalau pernah ke Taj Mahal asli, melihat edisi KW ini nggak bakalan terkesan. Alhamdulillah saya melihat yang kw duluan sebelum melihat yang asli, jadi masih bisa menikmati.



 

Situs arkeologis Ellora terdiri dari puluhan kuil yang dibangun pemeluk tiga agama berbeda: Budha, Hindu, dan Jai. Yang istimewa, kuil-kuil ini dibuat dengan cara melubangi, memotong, dan memahat bukit-bukit batu. Struktur sebagian kuil tampak begitu geometris, seperti hasil potongan mesin-mesin modern. Sulit membayangkan bahwa usia kuil-kuil sudah lebih dari seribu tahun. Sekarang kuil-kuil Ellora dipromosikan sebagai lambang kerukunan antar agama. Mungkin mirip dengan gereja dan masjid yang kerap dibangun berdampingan di alun-alun beberapa kota di Indonesia. Beberapa pengunjung Ellora masih memanfaatkannya untuk mengangkat dupa dan bersembah sujud. Sebagian besar pengunjung yang lain lebih memilih mengangkat ponsel dan mengabadikan kenangan.




Mohammed bin Tughluq, the sultan of Delhi who built this fort was possibly a paranoid man. The Daulatabad fort is famous for its series of trick defence and secret escapes routes. In the middle section of this 12th century fortress, I found a magnificent wooden door plated with iron. Just perfect for framing my picture.


 
Dari ketinggian jalan menuju puncak benteng Daulatabad, terlihat jelas kering dan tandusnya tanah di daerah ini. Maharashtra memang salah satu negara bagian yang mengalami kekeringan paling parah di India. Konon, kekeringan pula yang membuat kota yang dibentengi tembok berlapis ini ditinggalkan penghuninya, sekitar seribu tahun silam. Semoga hujan segera menyapa dan mengubah hamparan tanah tandusmu menjadi kebun-kebun yang hijau.


Foto & caption: @ninoaditomo
Difoto dengan kamera saku Canon S95.


~ The Emak

0 komentar:

Tip Packing Ke Eropa

Keluarga Precils dengan tas-tasnya di stasiun Brussel Centraal
Ketika mendapat konfirmasi booking Emirates ke Eropa, saya norak-norak bergembira melihat jatah bagasi masing-masing 30kg. Jatah total kami berempat 120kg. Edyan, lebih dari 1 kwintal! Bisa kulakan apa aja di Paris nanti? begitu pikir saya.

Tapi menjelang hari keberangkatan, saya makin realistis. Nggak mungkin lah kami bawa banyak koper, ngilu membayangkan bakal nyeret koper dari stasiun ke hotel, belum lagi naik turun tangga di stasiun-stasiun tua di Eropa. Saya juga ingat kerepotan kami membawa koper 'bedol desa' ketika naik campervan dari Adelaide ke Melbourne. Kapok! Akhirnya kami memang traveling light. Dua minggu di Eropa, kami 'hanya' bawa 1 koper kecil (bisa masuk kabin sebenarnya), 1 koper besar (apa aja bisa masuk) dan dua ransel sedang, satu yang biasa dibawa Si Ayah untuk kerja dan satunya yang biasa dibawa Big A sekolah. Oh, iya, bawaan kami tambah satu lagi: anak usia 6 tahun yang kadang minta digendong :p

Packing itu ketrampilan yang bisa dilatih, semakin sering traveling, akan semakin mahir. Lama-lama akan tahu sendiri apa barang-barang yang ngebet kita bawa tapi tidak pernah ada gunanya dalam perjalanan. Lama-lama akan sadar bahwa baju yang kita bawa cuma akan terpakai separuhnya. Standar packing saya sama untuk perjalanan seminggu, sepuluh hari atau dua minggu: bawa baju untuk tiga hari. Nanti cari laundry di perjalanan. Khusus yang hobi foto OOTD, tidak perlu mengikuti saran ini :D

Berikut barang-barang bawaan kami untuk traveling 14 hari ke Eropa, mungkin bisa memberi gambaran bagi yang sedang menyiapkan liburan juga. Karena kami pergi di musim panas (bulan Juli), kami tidak terlalu perlu pakaian hangat yang terlalu tebal. (Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand)

BAJU
- baju empat stel
- Syal panjang 2, pashmina 1 (bisa utk cover bagi busui), jilbab kaos instan 1
- baju tidur 2 stel
- dalaman 5 stel, dipak sendiri dalam travel cell atau keranjang baju dalam
- jaket (tebal/tipis sesuaikan dengan musim)
- kaos kaki 2 pasang (penting untuk di pesawat)
- handuk kecil (dibawa di kabin)
- sepatu (kami cuma bawa yang dipakai)
- jas hujan (yang keren, biar tetep bagus difoto)
- baju renang (akhirnya tidak terpakai, hiks)
- mukena, sarung
- sarung bali (multifungsi utk sprei dadakan, sajadah, tirai, alas piknik, dll)

GADGET
- laptop (Si Ayah harus kerja di sana je)
- ponsel dan earphone
- powerbank
- kamera (kami bawa mirrorless Sony NEX 5N dan pocket Canon S95) 
- tripod
- iPad, atau tablet juga boleh :p
- charger untuk setiap gadget. (Colokan Eropa=Indonesia, tidak perlu konektor)
- notes & bolpen (harus selalu ada di tas yang dibawa/kabin)
- buku bacaan
- earmuff Peltor Little A (untuk melawan bising di airport, pesawat, stasiun)
- payung (ini saya lupa! terpaksa beli di Brussels EUR 5)

LAINNYA
- toiletries (sikat gigi, pasta, sabun, shampo kemasan kecil colongan dari hotel)
- kosmetik (sabun muka, pelembab, tabir surya, lip balm, deodorant)
- tisu basah, tisu wajah, tisu toilet 1 rol.
- tas kresek (tempat baju kotor, tempat sampah darurat, kantung muntah)
- deterjen sachet (beli di warung, supermarket nggak ada)
- obat pribadi (ventolin, parasetamol, minyak telon, handyplast)
- lensa kontak (cadangan kalo kacamata kenapa-kenapa)
- kacamata hitam

MAKANAN (untuk yang mau masak sendiri)
- mie instant untuk gawat darurat
- beras, sedikit aja untuk awal
- lauk-lauk kalengan (sarden, kornet, rendang dll)
- sambal (wajib!) dan kecap 
- bumbu instan nasi goreng
- susu formula Little A (soymilk protein)

PENTING
Dompet leher berisi: uang, kartu kredit/debit, paspor, tiket, boarding pass. 

MAHA PENTING: Rice cooker :D

Dompet traveling yang digantung di leher dan earmuff Little A
Dengan semua bawaan, di stasiun bandara CDG Paris
Menitipkan bagasi di stasiun Amsterdam
Ketika kami cerita ke teman dan saudara bahwa kami punya rencana traveling ke Eropa, mereka punya nasihat yang sama: hati-hati banyak copet! Mereka menyarankan kami membawa dompet/tas/kantong yang dikalungkan di leher seperti jamaah haji. Dompet tipis yang berisi paspor, uang, kartu kredit/debit dan tiket ini bisa dimasukkan ke dalam baju atau jaket. Saya anggap serius nasihat mereka karena memang sering mendengar cerita orang kecopetan di Eropa, terutama Paris! Saya bela-belain membeli travel neck pouch ini di toko Kathmandu ketika jalan-jalan di Christchurch, New Zealand seharga $15. Kantongan ini juga bisa dibeli di toko perlengkapan haji atau di departemen store di bagian perlengkapan traveling (cari bagian koper-koper). Alhamdulillah selama di Eropa aman. Tas pouch kecil ini sebagai ganti 'dompet biasa'. Apalagi kalau kemana-mana bawa ransel yang ditaruh di belakang, riskan menaruh dompet di sana.

Salah satu cara kami menghemat biaya makan di Eropa adalah memasak sendiri. Karena itu, kami memilih menginap di apartemen, bukan di hotel, yang ada fasilitas dapurnya. Enaknya mendarat di bandara Paris (CDG), tidak ada pemeriksaan custom sama sekali. Beda dengan aturan custom Australia yang ribet banget, ke Paris kita bebas bawa makanan apa saja. Bahkan tidak ada kartu kedatangan yang harus diisi. Setelah pemeriksaan imigrasi, cek paspor dan visa, kami mengambil bagasi dan bebas lenggang kangkung keluar dari bandara. Pemeriksaan custom hanya dilakukan secara random. Alhamdulillah kami tidak kena random check ini. Saya terbengong-bengong bahagia melewati petugas. Merci beaucoup!

Perlu juga diingat, kalau traveling ke beberapa kota di Eropa, entah dengan naik pesawat atau kereta, kita bakalan kerepotan kalau bawaannya terlalu banyak. Naik pesawat budget antar kota di Eropa mungkin biayanya murah, tapi tarif bagasinya sangat tidak ramah di kantong. Bandingkan dulu sebelum berangkat dengan tarif kereta yang tidak menarik biaya tambahan untuk tas

Di beberapa stasiun kecil dan tua di Paris tidak ada eskalator atau lift. Kalau stasiun besarnya biasanya ada fasilitas ini, namun tersembunyi. Carilah tanda disabilitas atau traveling dengan anak-anak (gambar kursi roda dan gambar keluarga dengan anak). Jalanan di kota di Eropa juga tidak selalu mulus. Kami harus menyeret koper-koper sejauh 400 meter di jalan konblok dari stasiun Lille Europe ke stasiun Lille Flandres. Pengalaman lain adalah menyeret koper dari stasiun Brussel Centraal ke hotel Novotel. Tidak jauh, hanya sekitar 300 meter, tapi jalannya berbatu. Saya sarankan menginvestasikan uang untuk membeli koper yang bagus. Koper kami merk American Tourister (adiknya Samsonite). Harganya sekitar 1 jutaan kalau sedang diskon. Lumayanlah daripada koper kami seharga $35 (beli di Sydney, merk abal-abal) yang langsung jebol sekali pakai.

Selama jalan-jalan, kami juga sempat menitipkan koper kami di stasiun Koln (Cologne), Jerman dan stasiun Amsterdam Centraal, Belanda. Di Koln, kami cuma punya waktu singgah tiga jam. Penitipan di stasiun Hbf Koln ini canggih banget, pake mesin otomatis seperti mesin ATM. Nanti saya tulis tersendiri. Di Amsterdam, kami perlu menitipkan koper karena di hari terakhir di sana, kereta kami baru berangkat jam 3, padahal kami sudah harus cek out dari penginapan. Penitipan tas di Amsterdam ini mirip sewa loker, kita operasikan sendiri dan membayar dengan kartu kredit.

Ada teman yang bilang, tidak perlu membawa rice cooker karena beras di Eropa sudah 'setengah matang' dan bisa dimasak dengan cara direbus sekali saja. Waduh, saya kok belum percaya ya. Saya ingat pengalaman pahit ketika campervanning, makan nasi gagal karena malas bawa rice cooker. Kami sangat bersyukur membawa rice cooker (dan sedikit beras) mengingat pengalaman kami di hotel Meininger. Hotel ini saya pilih karena murah, tapi memang di sekitarnya tidak ada apa-apa. Ketika kelaparan malam-malam, kami tinggal menanak nasi di kamar mandi, dan menghangatkan rendang daging sapi. Karena tidak bawa piring, kami terpaksa makan langsung dari kalengnya. Duh, syedapnya!

Bukan iklan :p
Bagaimana pengalaman kalian packing? Barang apa yang wajib dibawa?

~ The Emak 

 

Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand

dan tulisan lain tentang Trip Eropa:VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI
Berburu Tiket Pesawat Murah ke Eropa
Tip Membeli Tiket Kereta Keliling Eropa
Terbang Ke Eropa Dengan Emirates
 
ITINERARY
Pertama Kali ke Eropa? Ini Itinerarynya!

PENGINAPAN
Mencari dan Memesan Penginapan dengan Airbnb  

Review Novotel Off Grand Place Brussels
Review Hotel Meininger Amsterdam


0 komentar: